PANGGUNG WILAYAH 17 AGUSTUS-AN

PANGGUNG 17 AGUSTUS – an


Banyak peran yang terlahir dari suatu panggung. Ada aktor, ada sutradara, ada penulis skenario, ada dekor, ada penata rias, ada intermezzo, ada penonton, ada komentator, ada donatur, ada tamu VIP, tamu VVIP, ada bakul kacang dan jagung rebus pula. Rame banget kan.

Belum lagi perasaan yang terlahir dari sebuah panggung. Ada rasa sendiri MC dalam memandu acara. Ada rasa takut seorang actor jika melakukan kesalahan. Ada beban tanggungjawab seorang sutradara pada penyandang dana jika tidak mampu memberikan rangkaian hiburan dengan performa yang maksimal. Ada rasa khawatir dr pendekor dan penata rias akan bisik bisik tamu VIP dan VVIP yang dianggap bisa support promo acara. Belum lagi bakul kacang dan jagung rebus yang enggan berdagang di acara yang dianggap gagal.

Kalau panggungnya sukses. Pamor, popularitas, eksistensi pemeran akan meningkat tajam. Ya, meskipun pamor itu tidak memberikan efek signifikan bagi naik gaji pemeran. Bahkan sebaliknya hujatan yang tak kunjung mereda yang menuntut aktor turun panggung karena aksi panggungnya yang tidak memuaskan.

Intinya adalah penonton nomor 1 bukan? Untuk dinikmati siapa panggung itu ada? Bukankah untuk penonton? Siapa tim penilai yang ditakuti penonton bukan? Kalaupun bakul jagung rebus dan kacang rebus tidak mau jualan lagi, bukankah karena jumlah penontonnya yg menjadi pertimbangan mereka? Penonton lagi kan? Kenapa? Bukannya acara itu gratis untuk penonton? Ataukah karena penonton membayar mereka untuk punya best performance?

Namun siapa yang menyangka kalau panggung yang seramai itu membuat orang merasa SENDIRI. Bukan karena tidak ada orang lain. Sendiri bukan karena di tempat yang sepi, dan bukan pula karena di ruang yang gelap dan sunyi. Mungkin lebih pada sendiri berdiri di atas panggung yang luas namun terasa sempit. Di atas panggung terbuka yang banyak angin namun rasanya panas. Panggung yang tinggi namun terasa rendah. Panggung yang katanya tempat bebas namun mengekang.

Logically, siapa yang mau ada di panggung seperti itu berlama lama? Durasi film layar lebar saja hampir semua sama rata-rata 2 jam. Dalam film durasi 2 jam itu saja sudah membuat para pemeran berkecukupan. Cukup bisa membuat mereka memiliki kepribadian ganda karena mendalami perannya, cukup membuat pemeran hidup di dunia yang bukan dunianya, cukup membuat mereka lupa bahagia, dan cukup membuat mereka sibuk membuktikan eksistensinya. Serta lupa bahwa kehidupan yang benar-benar hidup tidak butuh ketenaran dan pengakuan. Cukup berjalan dengan diam, makan kenyang, tidur dengan tenang bangun hanya ketika diperlukan. 

Bagi kita yang memilih diam di tengah hiruk-pikuk, yang mencari ketenangan di dunia yang terus bergolak, mungkin seperti itulah panggung dijadikan sebagai metafora dari wilayah suatu kekuasaan, yang erat dengan kesendirian, kekhawatiran, beban tanggung jawab tanpa batas, yang sebenarnya ia adalah sebuah dunia kecil, di mana hidup hanya perlu dijalani, tanpa pretensi, dan tanpa ambisi.

 

 

Komentar